Tampilkan postingan dengan label maestro-bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maestro-bisnis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Pelopor Franchise Pecel Lele yang Naik Daun

Menu pecel lele tentunya sudah sangat merakyat di berbagai daerah, mulai dari kalangan menengah keatas hingga masyarakat bawah menyukainya sebagai salah satu menu andalan ketika mereka menikmati sajian kuliner di warung-warung tenda kaki lima. Melihat permintaan pasar yang begitu besar, Rangga Umara seorang lelaki di Bandung mencoba masuk ke tengah persaingan bisnis yang cukup ketat dengan menawarkan inovasi baru dalam menyajikan pecel lele.

Info produk

Jika biasanya para pedagang kaki lima atau warung-warung pecel lele hanya menawarkan menu standar berupa lele goreng atau bakar yang dilengkapi sambal serta lalapan. Rangga mencoba mengangkat pecel lele sebagai menu makanan restoran berkelas dengan mengkreasikannya menjadi berbagai variasi menu pilihan olahan lele. Misalnya saja seperti lele goreng tepung, lele saus padang, lele fillet lada hitam, lele fillet goreng tepung, lele fillet kuah tom yam, serta lele original yang biasa disajikan para pedagang kaki lima.

Read More..

Senin, 25 April 2011

Kisah Sukses Pelopor Waralaba Salon Muslimah

Salon kecantikan merupakan salah satu tempatnya kaum wanita untuk mempercantik diri. Sebab, di tempat inilah segala hal yang berkaitan dengan perawatan tubuh mulai ujung rambut hingga ujung kaki tersedia lengkap. Selain itu, salon juga menjadi tempat relaksasi yang nyaman dengan treatment seperti pijat, spa dan pelayanan yang lain.
Dewasa ini, perkembangan salon sangat pesat. Kaum wanita muslim pun telah menempati salah satu porsi utama dalam pangsa pasar ini. Terlihat kini, makin merebaknya berbagai jenis usaha salon khusus muslimah di berbagai kota besar di Indonesia. Baik itu berdiri sendiri, maupun bersistem waralaba. Kebutuhan perawatan tubuh yang lengkap, nyaman, berbasis syariah dan halal kini kebutuhannya semakin dicari para wanita, khususnya wanita muslimah.

Yulia Astuti Haras dan Linda Kartika Haras, adalah salah satu pengusaha yang berprestasi di bidang salon muslimah di Indonesia. Kakak beradik ini, mengawali bisnisnya berdasarkan hobi mereka yaitu memanjakan diri di salon. Sering terjadi kerepotan ketika Yulia dan Linda susah menemukan salon yang nyaman untuk mereka berdua yang telah mengenakan jilbab. 

Meski yang melakukan perawatan adalah wanita, namun suami atau anak laki-laki dari pengunjung berada di dalam salon. Dan hal itu yang membuat para wanita berjilbab merasa tidak nyaman. Lalu terbesitlah dalam benak Yulia, untuk membuka salon khusus muslimah. Salon ini nantinya khusus untuk wanita saja, tidak boleh ada laki-laki yang masuk. Kemudian ia mengajak adiknya Linda untuk membuka usaha kecantikan tersebut. Linda pun langsung menyanggupinya. Tanpa pikir panjang, Linda pun langsung keluar dari kantornya, yang juga tempat bekerja Yulia. Sementara itu, Yulia masih bertahan. Awalnya, ada 3 orang yang berniat membuat salon, hanya pada saat mulai akan dikerjakan sang teman mengundurkan diri. Sesungguhnya baik Linda maupun Yulia tidak mempunyai basic mengenai dunia per-salonan yang memadai. Oleh sebab itu, Linda pun rajin mengikuti berbagai macam kursus kecantikan mulai perawatan ujung rambut hingga ujung kaki. Karena pelayanan itulah yang nantinya ditawarkan kepada konsumen salonnya. 

Perjalanan menuju sukses Pada Mei 2002 resmilah salon milik Yulia dan Linda dibuka dengan mengusung nama moz5 (baca:muslimah) di daerah Margonda Depok. Diawali dengan 3 orang karyawan, Linda langsung memimpin operasional salon, karena Yulia masih bekerja. Seusai pulang bekerja, Yulia selalu menyempatkan diri datang ke salon. Untuk modal pertama menjalankan bisnis salon muslimahnya mereka mengeluarkan budget sebesar Rp 100 juta. Itupun bukan keseluruhan berasal uang pribadi, namun juga uang pinjaman dari saudara dan lainnya. Dengan modal sebesar itu, Yulia dan Linda gunakan untuk menyewa tempat 2 lantai di daerah Margonda, Depok, Jawa Barat dan membeli perlengkapan serta peralatan salon modern.

Salah satu kelebihan usahanya dibanding salon yang lain adalah menerapkan konsep kenyamanan bagi muslimah saat berada di salon. Sebelumnya dua ibu muda ini mengadakan survey kebeberapa salon, kemudian menerapkan beberapa pelayanan yang sesuai dengan konsep salonnya. Begitu seterusnya, sembari mengikuti perkembangan salon modern. Disamping itu, Linda pun terus mengikuti beragam kursus guna mengasah keterampilannya pada bidang perawatan kecantikan. Linda membagi kantornya menjadi dua bagian, yaitu lantai dasar untuk pelayanan potong rambut, creambath, pedicure, manicure, dan refleksi. Sedang lantai dua, khusus perawatan wajah (facial) dan badan (lulur). Dan tersedia juga layanan spa, aneka lulur, perawatan pra nikah, dan aneka perawatan cantik luar dalam, juga tersedia jasa rias pengantin muslimah. Belakangan moz5 juga menambah layanan dengan senam khusus muslimah. Begitulah cara Linda dan Yulia memanjakan para pelanggannya.
Maka tak heran, jika pelanggannya makin banyak. Yang semula pelanggannya adalah para mahasiswi, kini paling banyak ibu-ibu muda dan wanita pekerja. Pelanggan moz5 bukan hanya para wanita berjilbab, namun banyak juga yang tidak. Jika dibandingkan sekitar 60:40, dimana 60% adalah wanita berkerudung. Simbol kesuksesan dari salon ini adalah bangunan gedung yang bertingkat di Jalan Margonda Raya, Depok telah menjadi milik sendiri. Kesuksesan bisnis jasa satu ini bukan hanya itu, tapi juga untuk kawasan Asia Tenggara, moz5 salon menjadi pelopor salon muslimah yang telah diwaralabakan. 
Selain itu, sudah banyak prestasi yang dicapai oleh moz5 diantaranya, terpilih menjadi salah satu dari 14 usaha waralaba yang dipromosikan oleh Kadin dan WALI untuk berkiprah di luar negeri; meraih penghargaan sebagai salah satu wirausahawan muda dalam The Indonesian Small and Medium Business Entreprenuer Award (ISMBEA) tahun 2009; dan menjadi pelopor usaha salon khusus muslimah yang diwaralabakan. Demikian artikel profil pengusaha pekan ini, semoga kisah sukses pelopor waralaba salon muslimah dari kakak beradik Yulia dan Linda dalam merintis usaha salonnya menjadi inspirasi Anda dalam memulai bisnis. Salam sukses. Sumber :http://bisnisukm.com

Read More..

Sukses Berwirausaha Dari Menekuni Hobi

“Berawal dari sekedar hobi, ternyata kini berhasil menjadi hoki.” Mencintai dunia animasi sejak kecil, berhasil mengantarkan Wahyu Aditya menjadi seorang pengusaha sukses yang kini mengembangkan bisnisnya menjadi empat bidang usaha di bawah naungan PT. HelloMotion Korpora Indonesia. Terlahir di lingkungan keluarga wirausaha dan akademisi, membuat Wadit (sapaan akrab Wahyu Aditya) tumbuh menjadi pemuda yang senang dengan tantangan dan memiliki jiwa entrepreneur cukup kuat. Ayahnya seorang dokter spesialis mikrobiologi yang berprofesi sebagai dosen dan ibunya seorang pengusaha yang membuka bisnis jasa Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) ke Hongkong. 

Berkat minat dan bakatnya yang menurun dari sang Ayah yang juga hobi melukis, diusianya yang masih terbilang muda (usia 24 tahun) Wadit berhasil membuka sekolah animasi dengan nama HelloMotion Academy. Bahkan tidak berhenti sampai disitu, kini Wadit yang genap berusia 31 tahun pada tanggal 4 Maret lalu, telah mengembangkan bisnisnya menjadi empat jenis usaha. Yaitu meliputi sekolah animasi dengan nama HelloMotion Academy, menjadi event organizer untuk festival film animasi HelloFest yang rutin diadakan setahun sekali, membuka sebuah rumah produksi yang berlabelkan Dapupu Indonesia, serta melebarkan sayap di bisnis distro dengan mengenalkan brandnya Kementrian Desain Republik Indonesia (KDRI).

Perjalanan Bisnis Untuk meraih kesuksesan yang diraihnya saat ini, ternyata perjalanan yang dilalui Wadit tidak semulus yang kita bayangkan. Sebelum mendirikan sekolah animasi di tahun 2004, lulusan KvB Institute of Technology Sydney ini sempat bekerja di Trans TV sebagai creative designer and animator selama dua tahun.
Namun Ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut, karena tertantang untuk mencoba berwirausaha. Saat itu Wadit memutuskan untuk membuka sebuah rumah produksi dengan beberapa temannya, namun perjalanan bisnisnya kurang lancar dan hanya bisa bertahan selama satu tahun.pengusaha sukses Dari kegagalan tersebut Wadit mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang manajemen bisnis. 

Hingga akhirnya Ia bangkit dan melanjutkan perjalanannya menuju sukses dengan meminjam Rp 400 juta dari bank untuk modal mendirikan sekolah animasinya. Moment inilah yang menjadi batu loncatan bagi suami Arie Octaviani Arifin ini, sehingga saat ini bisnisnya berhasil meraup omset hingga milyaran rupiah setiap tahunnya.
Mimpi besar Wahyu Aditya untuk mengenalkan animasi ke seluruh masyarakat Indonesia, dan melahirkan para animator baru yang memiliki daya saing di pasar internasional, kini bukan menjadi hal yang mustahil untuk terwujud. Dengan membuka empat peluang bisnis yang dimulainya dari hobi, Wadit tidak hanya berhasil mendapatkan omset besar setiap bulannya. 
Tapi Ia juga merasa puas dapat berbagi ilmu dengan banyak orang yang tertarik menekuni profesi animator. Karena bidang ini menjadi salah satu peluang bisnis yang cukup potensial kedepannya. Semoga profil pengusaha Wahyu Aditya yang sukses berwirausaha dari menekuni hobinya, dapat memberikan inspirasi bagi kita semua untuk segera memulai usaha. Karena sebenarnya peluang usaha dapat kita temukan dari bakat dan minat yang ada dalam diri kita. Selamat berkarya dan salam sukses.
Sumber artikel : http://bisnisukm.com Sumber gambar : http://distrokdri.com/images/product/kaos1293966006-03-hellomotionac1.jpg dan http://radarsukabumi.com/uploads/berita/dir28082010/img28082010603181.jpg

Read More..

Kamis, 31 Maret 2011

Sukses Menjalankan Bisnis Kulit dan Natural Handicraft

Memadukan produksi kerajinan dari bahan baku kulit dengan bahan baku lain seperti serat alam pandan, mendong, enceng gondok, agel dan lidi ternyata bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Dengan bahan baku yang beragam tersebut, maka produk yang dihasilkan juga memiliki variasi yang beragam pula. Hal itulah yang sejak tahun 1971 ditekuni oleh Ibu Siti Galwati (57), seorang pengusaha sukses di bidang kerajinan yang berasal dari Manding Bantul Yogyakarta. Mengusung SEAGA sebagai nama usahanya, produk-produk yang dihasilkan kini tersebar hingga ke beberapa negara seperti Amerika, Australia, Selandia Baru, Meksiko, Spanyol, Perancis, Oman, Belanda, Inggris, Singapura, Thailand, dan beberapa negara lainnya.
Ditemui di rumahnya Selasa (15/3), Ibu Siti mengungkapkan jika pada awalnya beliau menggeluti usaha dibidang modiste dan kulit. Terlebih di daerah Manding selama ini sudah dikenal sebagai sentra kerajinan kulit yang sudah tersohor hingga ke mancanegara. Namun, dalam menjalankan usahanya tersebut, banyak jalan berliku yang harus dilalui Ibu dua orang putri tersebut. “Sekitar tahun 80’an usaha kulit sempat vacum karena mahalnya bahan baku, kemudian saya menekuni usaha modiste hingga tahun 1993,” kata Ibu Siti. Dan dua tahun setelah menghentikan usaha modistenya, usaha kulit Manding ternyata bangkit lagi. Sehingga tahun 1995 tersebut menjadi titik balik bagi Ibu Siti membangun bisnisnya kembali. Dengan dibantu manajemen yang lebih solid, usaha yang sebelumnya berkonsentrasi pada kerajinan kulit mulai melakukan diversifikasi dan diferensiasi produk dengan mengembangkan produk-produk baru dari bahan alami seperti: bagor, eceng gondok, pandan, mendong, seagrass, agel, bungkus chiki, rotan, bambu, batu, serat goni, pelepah pisang, dan masih banyak lagi. Pada tahun 1996, usaha yang kemudian diberi nama SEAGA tersebut sudah memiliki lebih 150 jenis produk kerajinan dari bahan dan jenis yang bervariasi. Proses pemasaran yang pada mulanya hanya skala lokal kemudian dialihkan lebih luas, yaitu dengan bekerjasama dengan para trader lokal, nasional, dan internasional untuk membantu proses pemasarannya. Seiring dengan perkembangan usaha yang semakin pesat, SEAGA juga berkali-kali berhasil memenangkan berbagai penghargaan di tingkat lokal dan nasional. Beberapa penghargaan yang pernah didapatkan antara lain: juara lomba manajemen tingkat nasional tahun 2000 dan masuk 50 besar sebagai urutan ke-14 dengan kategori UKM yang terbaik dalam hal inovasi, pemasaran, produksi dari Enterprise 50. “Kami juga pernah memperoleh penghargaan karena menjadi supplier dengan item produk terbanyak pada tahun 2002,” tambah Ibu Siti tentang prestasinya. Dengan permintaan produk yang semakin meninggi, kebutuhan akan tenaga kerja juga menjadi hal yang penting bagi SEAGA. Penambahan tenaga produksi dilakukan bertahap sesuai dengan kebutuhannya. Sampai pada tahun 2001, SEAGA pernah memiliki tenaga kerja hingga 445 orang. Dengan banyaknya tenaga kerja tersebut, SEAGA kemudian mendirikan anak perusahaan yang mengurusi masing-masing bidang, yaitu Hamparan Seaga yang menangani eceng gondok, pandan, mending, agel, dan seagrass; serta anak perusahaan yang satunya menangani pemotongan karton. Kedua anak perusahaan tersebut kini dipegang oleh putri-putri dari Ibu Siti. Kesuksesan yang diperoleh Ibu Siti juga bisa dilihat dari omset yang diperoleh perusahaannya. Menurut Ibu Siti, rata-rata omset yang diperoleh per tahunnya sebesar 1,2 milyar. Dengan omset sebesar itu, saat ini SEAGA mulai mengembangkan sayap pemasaran hingga ke Kalimantan. “Selain workshop yang ada di Manding dan Pasar Seni Gabusan, kini kami mencoba memasarkan produk kami di salah satu mall di Kalimantan,” imbuh Ibu Siti. Meskipun pernah mengalami kerugian besar ketika terjadi musibah gempa bumi Bantul tahun 2006, namun dengan optimisme tinggi dan tidak mau terpuruk terlalu lama, SEAGA mampu bangkit hanya dua bulan pasca gempa. Dan di tahun 2011 ini, aneka produk yang diproduksi SEAGA antara lain tempat tissue, megazine holder, tempat korek, frame/ pigura, tempat pakaian kotor, sandal, bunga, bandul, dompet, tas, sepatu, lilin, tempat pensil, karpet, bantal, round container, tikar, alas Makan, box, tempat coklat dan lain-lain. Di akhir wawancaranya dengan tim bisnisUKM, Ibu Siti berharap untuk terus bisa berinovasi dan berkreasi di usianya yang sudah tidak muda lagi. Dan saat ini, Ibu yang sudah memiliki 4 orang cucu itu sangat yakin bahwa putra-putrinya mampu melanjutkan bisnis kerajinan yang sudah dirintisnya puluhan tahun yang lalu.
sumber http://bisnisukm.com

Read More..

Rabu, 30 Maret 2011

Kisah Sukses Dapur Cokelat

Berawal dari kegemarannya terhadap cokelat sejak kecil, ternyata mengantarkan Ermey Trisniarty menuju puncak kesuksesan. Berawal dari hobinya sedari kecil yang “doyan” makan coklat, ternyata membuat Ermey tertarik untuk menjalankan bisnis coklat. Kegemarannya yang besar terhadap coklat, membuat wanita kelahiran Jakarta 2 Mei 1975 ini memutuskan untuk membuka bisnis coklat di tahun 2001. Dengan mengusung nama “Dapur Cokelat” Ermey mencoba menawarkan sebuah konsep yang unik bagi para penggemar makanan manis ini. Ia membuat suasana di dalam outlet seperti halnya ruangan dapur, lengkap dengan furniture kitchen set serta perabot rumah tangga lainnya yang sering ditemui di rumah para konsumen. Inilah yang memberikan daya tarik tersendiri bagi para konsumennya, sehingga mereka merasa betah dan tak segan untuk kembali lagi ke Dapur Cokelat. Sebelum meraih kesuksesannya seperti sekarang ini, dulunya Ermey memulai bisnis kue dan permen coklat dengan menerima pesanan di rumah. Kegiatan tersebut dimulainya sejak tahun 1994 ketika Ia masih berstatus sebagai mahasiswa. Meskipun saat itu bisnisnya baru skala rumahan, namun Ermey yang akrab dipanggil Eyi ini aktif mempromosikan produknya ke berbagai teman dan kerabat dekatnya. Dan ternyata strategi tersebut berhasil, hingga pesanan pun mulai berdatangan setiap harinya. Kondisi inilah yang mendorong mantan karyawati hotel ini mulai menggeluti bisnis cokelatnya dengan serius, mengingat peluang pasar di bisnis ini masih sangat bagus.cokelat Setelah resign dari sebuah hotel yang ada di Jakarta, Ermey menggandeng dua rekannya untuk membuka toko coklat yang berbeda dari toko lainnya. Dengan modal patungan sebesar Rp 75 juta untuk setiap orangnya, mereka menyewa sebuah tempat di jalan KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan dan membeli peralatan masak yang diperlukan untuk bisnis cokelatnya. Sesuai ide yang telah mereka sepakati, akhirnya dibangunlah sebuah toko cokelat dengan konsep dapur yang sangat homy. Tak heran jika bisnis ini dengan mudahnya menarik minat para konsumen, karena konsep yang ditawarkan memberikan kesan nyaman kepada setiap pengunjungnya. Berkat keunikan dekorasi toko yang ditampilkan serta kualitas rasa cokelat yang ditawarkan Ermey, kini dapur cokelat telah berkembang pesat dan dengan sistem kemitraan kini cabangnya sudah tersebar di sekitar Jakarta dan Surabaya. Seperti di daerah Menteng, Kompleks GreenVille, Kelapa Gading, Tebet, dan satu outlet di jalan Biliton Surabaya. Bisa dipastikan omset yang diterima Ermey pun kini bisa melebihi modal usaha yang pernah dikeluarkannya sepuluh tahun silam. Sekian dulu kilas profil pengusaha sukses untuk pekan ini, semoga kisah sukses Dapur Cokelat tersebut bisa bermanfaat bagi para pembaca dan menjadi inspirasi bisnis Anda. Mulai dari yang sederhana, mulai dari hobi Anda, dan selamat berkarya. Salam Sukses! Sumber http://bisnisukm.com

Read More..

Kamis, 17 Maret 2011

Kisah Pengusaha Sukses di Bidang Kuliner

Menjadi seorang pengusaha sukses, tentunya menjadi impian besar bagi semua orang. Namun sayangnya tidak banyak orang yang bisa berhasil meraih impian tersebut, mengingat untuk mencapai sebuah kesuksesan dibutuhkan kerja keras dan tekad yang kuat guna menghadapi semua rintangan dan hambatan yang sering muncul di tengah perjalanan menuju sukses. Hal inilah yang memotivasi sepasang suami istri, Jody Brontosuseno dan Siti Hariyani dalam mengembangkan usaha. Jatuh bangun dalam menjalankan sebuah usaha, sudah menjadi bagian dari perjuangan mereka mencapai kesuksesan. Berbagai peluang usaha dari mulai berdagang roti bakar, berjualan susu, sampai berbisnis kaos partai musiman pernah mereka jalani, dan semuanya tidak bisa bertahan lama hingga harus ditutup sebelum mencapai suksesnya. Meskipun begitu, pengalaman pahit tersebut tidak membuat sepasang suami istri ini berhenti mencoba peruntungannya di dunia bisnis. Mengawali kesuksesan bisnisnya pada tahun 2000, Jody dan Anik mencoba membuka warung steak sederhana dengan memanfaatkan teras rumahnya, yang berlokasi di Jl. Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta sebagai lokasi usaha. Berbekal jiwa entrepreneur yang telah mereka miliki, pasangan serasi ini nekat membangun sebuah rumah makan steak dengan nama “Waroeng Steak n Shake” yang kini lebih dikenal dengan istilah WS, lain daripada restoran steak lainnya. Jika biasanya kuliner ala Eropa ini hanya bisa dinikmati masyarakat menengah atas, di berbagai restoran mewah atau di hotel-hotel berbintang dengan harga yang relatif mahal. Jody dan Anik, berhasil menciptakan sebuah gebrakan baru di bisnis kuliner, dengan menawarkan salah satu makanan barat yang banyak diminati masyarakat yaitu steak, dengan harga yang sangat bersahabat dan jauh dari kata mahal. Mereka sengaja menawarkan steak di warung sederhananya, untuk membangun image baru di mata konsumen bahwa menu ala Eropa juga bisa disajikan di warung makan biasa, dengan cita rasa yang tidak kalah bersaing dengan steak di hotel-hotel berbintang lima. Siapa sangka jika strategi tersebut cukup menarik minat konsumen, hingga waroeng steak yang dulunya hanya bermodalkan 5 buah hot plate dan 5 buah meja makan, dengan daya tampung 20 pengunjung. Kini berhasil berkembang pesat, mencapai lebih dari 30 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti di daerah Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogyakarta, Bali, serta Pekanbaru. Dengan omset ratusan hingga milyaran rupiah setiap bulannya. Terobosan baru yang ditawarkan Waroeng steak, melalui mottonya “Bukan steak biasa” ini berhasil merubah pandangan masyarakat, yang dulunya beranggapan bahwa makanan steak hanya bisa dikonsumsi orang kaya. Menjadi makanan baru yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan harga yang sangat terjangkau dan tentunya pas dikantong semua konsumen. Dengan menanamkan image murah yang begitu kuat di hati para konsumennya. Kini duet suami istri ini tercatat sebagai salah satu entrepreneur sukses yang keberadaannya patut diperhitungkan. Karena mereka tidak hanya sukses mengembangkan puluhan cabang WS di berbagai daerah saja, saat ini Jody dan Anik juga merambah bisnis makanan lainnya yang menawarkan berbagai menu bakaran, serta membangun bisnis futsal di seputaran kota Yogyakarta. Semoga kisah pengusaha sukses di bidang kuliner untuk pekan ini, dapat menjadi inspirasi bisnis bagi Anda yang sedang memulai usaha dan bermanfaat bagi para pembaca. Selamat berkarya dan salam sukses. 
Sumber : http://bisnisukm.com

Read More..

Brownies Kukus, Kisah Sukses Bisnis Rumahan

Kelezatan brownies kukus ternyata tidak hanya berhasil memikat lidah masyarakat luas, makanan ini ternyata juga memberikan sejarah penting bagi Hj. Sumiwiludjeng dan suaminya H. Sjukur Bc.AP dalam mengawali kisah suksesnya menjalankan bisnis rumahan. Tentu Anda sudah tidak asing lagi bila mendengar produk brownies kukus dengan merek “Amanda”. Produk yang dulu dikenal sebagai oleh-oleh khas Bandung ini, sekarang gerai dan tokonya sudah bisa diperoleh di kota-kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Surabaya dan Medan. Namun siapa sangka bila kesuksesan Amanda yang kini telah berhasil membuka gerai di berbagai kota sampai memiliki pabrik kue, berasal dari bisnis rumahan yang dulunya hanya dikerjakan Sumi dan dibantu anggota keluarganya. Mengawali bisnis sesuai dengan minat dan bakat, memang merupakan alternatif tepat untuk bisa sukses menjalankan sebuah bisnis. Bermodalkan kemampuan memasak yang didapatkan Sumi ketika mengenyam Pendidikan Kesejahteraan dan Keluarga di IKIP Jakarta, Ia menjalankan bisnis katering rumahan dengan menerima pesanan kue dan makanan untuk acara-acara tertentu. Di akhir tahun 1999 Sumi mencoba resep kue bolu kukus yang didapatkan dari salah seorang saudaranya. Ia mencoba resep tersebut hingga berulang-ulang, sampai akhirnya menemukan takaran yang pas untuk bolu kukus tersebut. Dibantu oleh putra sulungnya Joko Ervianto beserta istrinya (Atin), Sumi menawarkan bolu kukus cokelat tersebut sebagai salah satu menu di katering mereka. Berkat kelezatan dan cita rasa bolu kukus cokelat yang unik, produk tersebut dengan mudahnya diminati para konsumen. Melihat permintaan pasar akan produk tersebut sangatlah bagus, pada tahun 2000 keluarga Sumi memutuskan untuk membuka usaha brownies kukus dengan menggunakan merek Amanda. Nama tersebut merupakan singkatan dari Anda Mantu Damai, yang artinya mengharapkan anak dan menantu bisa selalu hidup rukun dan damai. Langkah Awal memasarkan brownies kukus Amanda ternyata tidak semulus yang dibayangkan Sumi beserta anak dan mantunya, kios usaha yang dibuka di komplek pertokoan Metro Bandung harus tergusur setelah pertokoan tersebut terbakar. Hingga akhirnya mereka memindah usaha kue tersebut dengan menyewa tempat di kawasan Jl. Tata Surya Bandung. Cobaan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk tetap menjalankan bisnis brownies kukus, dengan lokasi usaha yang baru mereka juga merasa tertantang untuk bisa mendapatkan pelanggan baru. Merintis usaha kembali di tempat baru, ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Amanda. Tak sulit bagi mereka untuk mendapatkan konsumen baru, bahkan minat konsumen semakin meningkat setelah mereka pindah di lokasi baru. Brownies yang diproduksi setiap harinya selalu habis dibeli konsumen, dan tak jarang banyak konsumen yang harus kecewa karena brownies kukus yang ingin dibelinya sudah habis terjual. Seiring dengan permintaan pasar yang semakin tinggi, membuat tempat usaha yang mereka tempati sudah tidak memenuhi kapasitas produksi. Tahun 2002 Sumi dan keluarganya berpindah lagi ke lokasi usaha baru di Jl. Rancabolang Bandung. Mengulangi kesuksesan di tahun sebelumnya, dari lokasi yang baru kesuksesan brownies kukus Amanda menunjukan kemajuan yang luar biasa. Lokasi yang strategis dan didukung dengan cita rasa brownies kukus yang lezat, mengantarkan bisnis yang dulunya hanya dikerjakan di rumah kini menjadi industri kue yang sangat sukses. Dan pada tahun 2004, merek brownies kukus Amanda resmi dipatenkan menjadi brand produk kue buatan Sumi dan keluarganya. Dibantu para menantu dan ketiga putranya Joko Ervianto, Andi Darmansyah, dan Sugeng Cahyono, kini brownies kukus Amanda sudah memiliki puluhan cabang yang tersebar di berbagai kota. Dengan menawarkan lebih dari dua puluh varian produk, saat ini penjualan produk Amanda bisa mencapai ribuan kotak untuk setiap harinya di masing-masing cabang. Anda bisa bayangkan bukan, berapa besar keuntungan yang diperoleh keluarga Sumi setiap bulannya? Semoga artikel “brownies kukus, kisah sukses bisnis rumahan” ini bisa memberikan inspirasi bisnis bagi para pembaca. Ketekunan, tekad dan kerjasama yang dimiliki keluarga Hj. Sumiwiludjeng berhasil mengantarkan bisnis rumahan menjadi industri besar, serta mewujudkan impian Sumi untuk selalu membuat anak dan mantunya bisa hidup rukun menjalankan usaha bersama. Oleh karena itu, yakinkan diri Anda bahwa setiap orang memiliki peluang sukses yang sama besar. Andapun juga bisa sukses bila Anda memiliki tekad besar dan berusaha fokus untuk menekuninya. Selamat berkarya dan salam sukses. Sumber : http://bisnisukm.com

Read More..

Kesuksesan Bisnis Sepatu Lokal di Mancanegara

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia belum terlalu mengenal produk sepatu bermerek Nilou. Namun siapa sangka jika produk sepatu lokal buatan Pulau Dewata (Bali) ini namanya sudah cukup terkenal di pasar global, bahkan ratusan gerainya saat ini telah tersebar di 20 negara asing. Seperti pasar Amerika, Perancis, Inggis, Karibia, Jepang, Australia, Uni Emirat Arab, serta beberapa negara lain yang ada di berbagai benua telah berhasil ia masuki. Mengawali bisnis sepatu di tahun 2004, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik berhasil mengenalkan merek sepatu Nilou yang berasal dari plesetan namanya (Ni Luh) bersanding dengan berbagai merek sepatu terkenal di pasar internasional. Kejeliannya dalam menentukan konsumen menengah ke atas sebagai target pasar, mendorong wanita kelahiran 15 Juni 1975 ini selalu mementingkan kualitas produk dibandingkan kuantitasnya. Maka tidak heran bila kualitas sepatu buatannya kini berhasil menarik minat para konsumen, khususnya di pasar mancanegara. Kisah sukses Ni Luh dalam membangun bisnisnya, berawal dari ketidakpuasan yang selalu ia peroleh ketika dirinya membeli sepatu. Semasa sekolah di Bali, ia tidak pernah mendapatkan sepatu dengan ukuran yang pas dengan kakinya, sehingga ia tidak pernah merasa nyaman ketika menggunakan sepatu-sepatu tersebut. Bukan itu saja, ketika kuliah di Jakarta ia juga sering kesulitan untuk mendapatkan sepatu high heels yang nyaman bila digunakan seharian. Sehingga kondisi tersebut membuat Ni Luh bertekad untuk bisa menciptakan sebuah sepatu yang nyaman digunakan seharian walaupun sepatu tersebut memiliki hak cukup tinggi. Perjalanan Ni Luh dalam membangun bisnis sepatu dimulai dengan menggandeng rekan kerjanya di Perancis yang sama-sama mencintai sepatu. Namun sayang, perjalanan bisnis patungan yang dibangunnya tidak bisa berjalan dengan mulus. Hingga akhirnya bisnis tersebut tidak dapat bertahan dan gulung tikar sebelum mencapai kesuksesan. Meskipun demikian, pengalaman pahit yang pernah dialami sebelumnya tidak membuat ibu satu orang anak ini menyerah dengan keadaan. Bermodalkan kecintaannya akan produk sepatu, dan didukung sedikit dana ditabungannya yang masih tersisa. Ni Luh memberanikan diri untuk mendirikan toko sepatu kecil-kecilan di Bali. Dengan menyewa tempat usaha yang sebenarnya tidak terlalu layak dijadikan sebagai toko sepatu, Ni Luh dibantu dengan seorang tukangnya memproduksi sepatu dengan sangat detail. Dari mulai pemilihan bahan baku yang berkualitas bagus, sampai desain mode yang selalu up to date dan tidak kalah cantik dengan sepatu-sepatu mahal yang dimilikinya kala itu. Keunggulan inilah yang membuat produk sepatu Nilou diminati pasar global. Karena modal usaha yang dimilikinya sangat minim, saat itu Ni Luh hanya mampu memproduksi tiga pasang sepatu untuk mengisi tokonya. Dan untuk menekan biaya produksi, Ni Luh baru akan memproduksi sepatu lagi ketika sudah ada pesanan dari konsumen. Strategi bisnis itulah yang membuat toko sepatunya mampu bertahan di tengah persaingan pasar, sebelum akhirnya Ni Luh nekat membesarkan tokonya dengan pinjaman dana dari Bank. Dan dari dana tersebut, ia mulai memperbaiki tampilan tokonya dan menambah persediaan bahan baku untuk meningkatkan proses produksi. Kebangkitan bisnis Nilou Tahun 2004 merupakan awal kebangkitan bisnis sepatu Nilou, masuk ke pasar global. Mendapat tawaran dari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris, membuka peluang bagi wanita lulusan Fakultas Ekonomi ini untuk melebarkan sayapnya dengan memasarkan produk sepatu di pasar mancanegara. Bukan hanya itu, di tahun yang sama Ni Luh juga mendapatkan partner dari negara Australia yang dengan suka rela ingin memasarkan produk-produk Nilou di negara asalnya. Moment tersebut tentunya memberikan keuntungan besar bagi Ni Luh, untuk bisa mengenalkan produknya di mancanegara. Seiring perjalanan waktu, kini Ni Luh telah memiliki lebih dari 20 orang karyawan dengan kapasitas produksi sekitar 200 pasang sepatu per bulan. Bila dulu ia hanya mampu memasang tiga pasang sepatu di toko sederhananya, kini sepatu-sepatunya yang dihargai Rp 700.000,00 sampai Rp 4.000.000,00 sudah bisa dipamerkan di berbagai gerainya yang ada di 20 negara. Bisa Anda bayangkan bukan berapa besar omset yang kini diterima Ni Luh setiap bulan? Kecintaan Ni Luh akan produk sepatu dan kerja kerasnya selama ini untuk memberikan yang terbaik bagi para konsumen, mengantarkan produk sepatu Nilou yang dulunya tidak kenal orang kini berhasil meramaikan pasar global dengan omset ratusan juta rupiah setiap bulannya. Sangat menarik bukan?? Semoga sekilas profil pengusaha tentang kesuksesan bisnis sepatu lokal di mancanegara bisa menjadi inspirasi bagi kita, untuk selalu berusaha mencapai kesuksesan yang telah kita targetkan. Selamat berkarya dan salam sukses. Sumber : http://bisnisukm.com

Read More..

Pengusaha Sukses Berbisnis Tas

Siapa yang tak kenal dengan produk tas merek “exsport, eiger, atau bodypack” ? Tentu semua orang sudah mengetahuinya, karena ketiga merek tersebut merupakan penguasa pasar untuk produk tas saat ini. Namun apa Anda mengetahui siapa produsennya? Mungkin sebagian orang tercengang, ketika mengetahui produk bermerek tersebut asli buatan anak bangsa. Benar sekali, seorang remaja bernama Ronny Lukito yang urung melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah, karena keterbatasan biaya. Berhasil mengubah kondisi pahit yang dihadapinya, menjadi peluang emas yang bisa membuatnya meraih kesuksesan seperti sekarang ini. Hidup ditengah keluarga yang pas-pasan, tidak membuat Ronny menyerah pada keadaan. Orang tuanya yang memiliki toko kecil khusus menjual tas, membuat Ronny terbiasa melihat secara langsung proses produksi sebuah tas. Bahkan Ia beserta saudaranya sering terjun langsung membantu orangtuanya dalam menjalankan bisnis tersebut. Dari mulai proses packing tas, merapikan tas-tas yang di display, serta menjadi kasir ketika ada pembeli yang membayar. Pengalaman itulah yang menjadi langkah awal Ronny untuk membuka bisnis tas, mengikuti jejak kedua orang tuanya. Setelah lulus STM pada tahun 1979, Ronny memutuskan untuk mencari pekerjaan. Namun belum sempat melamar pekerjaan, niatnya berubah 180 derajat setelah Ia mendapatkan nasehat dari salah seorang kerabat. Ia disarankan untuk bekerja di toko tas milik orang tuanya saja, karena Ronny merupakan anak lelaki satu-satunya yang seharusnya bisa meneruskan usaha keluarga. Semenjak itulah Ronny belajar tentang cara memproduksi tas, termasuk membuat desain dan pola tas, sampai proses penjahitan tas. Jiwa entrepreneur yang dimilikinya sejak duduk dibangku sekolah, membuat lelaki kelahiran Bandung ini mudah menyerap ilmu dari ayahnya. Tak lama setelah bekerja di toko milik sang ayah, Ia pun memulai bisnis pembuatan tas sendiri. Dengan modal kurang lebih satu juta rupiah, Ronny membeli dua mesin jahit, peralatan jahit, dan sedikit bahan baku pembuatan tas. Dibantu dengan satu orang pegawai, Ronny memproduksi tas yang diberi merek Exxon. Ternyata produk tas buatan Ronny sukses diterima pasar, usaha yang dirintis dari nol tersebut mulai menunjukan peningkatan yang sangat pesat. Tingginya permintaan pasar membuat omset bisnis tas Exxon selalu meningkat, hingga Ronny berhasil mempekerjakan 100 karyawan. Hingga akhirnya di tengah perjalanan Ronny meraih kesuksesan, Ia mendapatkan surat complain dari salah satu perusahaan di Amerika yaitu Exxon Mobil Corporation. Karena Ronny telah menggunakan Exxon sebagai merek tas yang diproduksinya, tanpa seizin pemilik hak paten. Peristiwa tersebut tidak diperpanjang, dan Ronny mengalah untuk mengganti merek produk tasnya dengan nama baru yaitu Exsport. Nama baru tersebut merupakan gabungan dua kata dari Exxon dan Sport. Maksudnya produk tas Ronny ditujukan untuk konsumen yang rata-rata anak muda sportif, dan diharapkan bisa menembus pasar ekspor ke berbagai negara. Ketekunan dan kerja kerasnya dalam menjalankan usaha, mengantarkan lelaki lulusan STM ini menjadi pengusaha sukses yang luar biasa. Terbukti bukan hanya berhasil membawa tas merek exsport hingga mancanegara, namun kini dibawah naungan B&B Inc. Ronny berhasil membawahi empat anak perusahaan besar antara lain PT. Eksonindo Multi Product Industry (EMPI), PT. Eigerindo MPI, PT. EMPI Senajaya dan CV Persada Abadi. Sederet merek tas ternekal pun, menjadi bukti nyata keberhasilan Ronny Lukito dalam menguasai pasar tas baik lokal maupun internasional. Membidik berbagai segmen pasar, Ronny pun mengembangkan sayapnya dengan memasarkan merek Eiger, Exsport, Neosack, Bodypack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica serta Broklyn. Kisah pengusaha sukses berbisnis tas ini, menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan entrepreneur Indonesia. Selalu ada jalan untuk meraih kesuksesan, bila Anda mau berusaha dan mencoba. Jika Ronny bisa sukses mengembangkan bisnisnya dari nol, Andapun pasti juga bisa. Semoga kisah sukses profil pengusaha B&B Inc, bisa Anda jadikan sebagai motivasi untuk mencoba memulai usaha. Teruslah berkarya dan salam sukses. Sumber : http://bisnisukm.com

Read More..

Memulai Bisnis Sampingan dari Hobi

Memulai bisnis sampingan dari hobi yang dimilikinya, memberikan jalan bagi Nina Zainab untuk memperoleh tambahan income yang cukup besar. Ketertarikannya dengan pembuatan pernak-pernik untuk pernikahan, membuat wanita cantik ini memiliki ketrampilan yang cukup unik yaitu berkreasi dalam pembuatan seserahan pernikahan. Berawal dari itulah, wanita berusia 29 tahun ini mencoba menjalankan bisnis sampingan jasa seserahan. Usaha sampingan tersebut dimulai Nina, sejak Ia menempuh pendidikan jurusan Fashion Garmen, di Inter Study Jakarta Pusat. Ketika masih menjadi mahasiswi, Nina sering membantu teman-temannya yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Dari mulai urusan penataan bunga, dekorasi pernikahan, sampai membuatkan seserahannya. Ternyata dari hobi yang dimilikinya, Nina bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk membiayai kuliahnya sendiri. Walaupun usahanya sudah dirintis sejak kuliah, namun Nina baru mulai serius menekuni bisnisnya pada tahun 2007. Di sela-sela kesibukannya menjadi seorang staf di sebuah sekolah swasta, wanita yang akrab dipanggil Nina ini masih bisa meluangkan waktunya untuk menjalankan usaha jasa seserahan tersebut. Bermodalkan uang sekitar Rp 2 juta, Nina membeli bahan baku seperti kotak seserahan, plastik mika, serta hiasan lainnya yang berupa bunga maupun pita. Untuk jasa yang ditawarkannya, Nina mematok harga dari mulai Rp 70.000,00 sampai Rp 300.000,00 untuk satu jenis seserahan. Ia menyesuaikan setiap bentuk dan isi seserahan sesuai dengan budget yang dimiliki calon pengantin. Jika budget yang dimiliki konsumen terbatas, Nina biasanya meminta konsumennya untuk membawa barang-barang bekas yang bisa dimanfaatkan untuk membungkus seserahan. Dari bahan-bahan tersebut, Nina akan mendaur ulangnya menjadi kemasan yang menarik. Contohnya saja seperti kaleng bekas, atau bunga kering yang bisa disemproti cat. Bukan itu saja, Ia juga menggunakan kain perca untuk hiasan maupun bantalan dalam kotak seserahan. Sehingga biaya yang dibutuhkan, tidak terlalu mahal. Walaupun menggunakan bahan-bahan daur ulang, namun hasil seserahan yang dibuat Nina tidak kalah cantik dengan produk seserahan yang ada di pasaran. Yang terpenting baginya adalah, konsumen yang memesan produk seserahan bisa memperoleh kepuasan. Oleh karena itu sebelum membuatkan pesanan, Nina selalu memperhatikan karakter konsumennya untuk disesuaikan dengan desain seserahan yang akan dibuatkannya. Sehingga konsumen puas dengan desain seserahan yang dipesan. Meskipun Nina harus menjalankan bisnis jasa seserahan di sela-sela kesibukannya sebagai karyawati, bukan berarti dia tidak bisa fokus menjalankan bisnis tersebut. Buktinya untuk mengembangkan usaha, Ia sengaja menambahkan dua tenaga kerja untuk membantu proses produksi. Nah, bagi Anda yang tertarik untuk mencoba peluang bisnis sampingan. Anda bisa mengikuti kesuksesan Nina Zainab yang memulai bisnisnya sesuai dengan hobi, di sela-sela kesibukan Anda. Semoga informasi profil pengusaha untuk pekan ini, bisa memberikan inspirasi bagi Anda yang sedang mencari ide bisnis sampingan dengan modal kecil. Selamat mencoba dan salam sukses. Sumber : http://bisnisukm.com

Read More..

Kreatifitas yang Membuahkan Sukses Usaha

“Coba-coba berhadiah”. ungkapan ini yang menggambarkan awal mula keberhasilan seorang wanita bernama Antin, dalam memulai usahanya. Setelah kantor tempat Ia bekerja bangkrut, terkena dampak krisis ekonomi. Antin tidak lantas menyerah dengan keadaan saat itu, ketika Ia tidak lagi menjadi pegawai kantor, Antin memutuskan untuk banting stir coba-coba mengikuti kursus membuat kerajinan keramik. Ternyata dari coba-coba tersebut, cerita kesuksesan wanita ini dimulai. Bermula dari hobinya dengan barang-barang keramik, Antin mulai mengikuti kursus membuat kerajinan keramik dengan seniman Liem Keng Sien selama kurang lebih satu tahun. Setelah selesai mengikuti kursus, Antin bersama temannya mempraktekan ketrampilan yang diperolehnya dengan membuat keramik dan mulai menjualnya. Uji coba Antin dan rekan-rekannya untuk memasarkan hasil kerajinan keramiknya pun berlanjut. Hingga akhirnya dengan modal usaha sebesar sepuluh juta rupiah, pada tahun 2000 Antin berhasil membuka bisnis kerajinan keramik dengan merek “jinjit pottery”. Nama “jinjit” diambil dari Bahasa Jawa yang artinya berusaha mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Peluang bisnis yang dijalankannya berdasarkan hobi ini, ternyata bisa mengantarkan wanita kelahiran Paris 18 Februari 1969 menuju gerbang kesuksesannya. Dengan menawarkan berbagai kerajinan keramik yang lucu, unik dan penuh inovasi ini, Antin sudah berhasil menggandeng 22 outlet sebagai sarana untuk memasarkan produk-produknya. Beberapa produk yang dibuat wanita 42 tahun ini antara lain mug, pin, kalung, gelang, hiasan magnet, frame foto, tempat kartu nama, tempat sabun, pen holder, serta beberapa produk lainnya. Untuk membedakan produk jinjit dengan produk keramik lainnya, Anti sengaja menciptakan produk dengan warna, motif dan desain yang khas. Misalnya saja warna biru dan cokelat yang selalu mendominasi produk-produk jinjit, serta kata-kata mutiara yang bisa memotivasi para konsumennya. Keahlian Anti dibidang arsitektur, ternyata membantunya dalam mengkomposisikan desain keramik yang diciptakan. Kesuksesan Antin dalam memulai usaha, tidak terlepas dari kerja keras dan ketertarikannya untuk mengekspresikan diri melalui keramik. Karena kecintaannya terhadap keramik, segala kesulitan dalam menjalankan bisnis bisa dilaluinya. Di tahun-tahun pertama menjalankan usaha, merupakan tahun terberat bagi Antin. Semua strategi pemasaran bisnis, seperti membuka gallery dan mempromosikan produk melalui pameran dicobanya untuk mengenalkan produk Jinjit pottery. Namun cara tersebut belum bisa membuahkan hasil yang optimal, yang ada biaya operasional pemasaran lebih besar daripada income usaha. Semua kegagalan yang diperoleh Antin diawal langkahnya, tidak menyurutkan niat wanita lulusan Universitas Tri Sakti ini untuk menyenangkan orang lain dengan produk keramiknya. Dengan meningkatkan kemampuannya dalam membuat desain, Antin selalu bermimpi semakin hari produk Jinjit pottery bisa dicintai oleh masyarakat luas. Semoga sosok wanita yang kreatif ini bisa memberikan inspirasi baru bagi Anda untuk memulai usaha baru. Selalu ada peluang, jika Anda mau berusaha menciptakannya. Semoga berhasil dan salam sukses. Sumber : http://bisnisukm.com

Read More..

Profil Pengusaha Sukses di Bisnis Pendidikan

Maraknya bisnis pendidikan yang berkembang saat ini, mendorong para pemilik lembaga pendidikan saling berlomba untuk menawarkan peluang usahanya dengan sistem kemitraan. Berbagai peluang kerjasama seperti franchise maupun business opportunity di bidang pendidikan, sekarang ini menjamur di berbagai daerah. Salah satu contoh pengusaha yang sukses menjalankan bisnis pendidikan, hingga berhasil membuka ratusan cabang di berbagai daerah Indonesia adalah Sony Sugema. Pria lulusan SMA Negeri 3 Bandung ini, mulai menekuni bisnis pendidikan sejak Ia duduk di bangku SMA. Setelah ayahnya meninggal, Ia mulai menjalankan bisnis sampingan dengan membuka jasa les privat bagi teman-teman sekolahnya dengan biaya Rp 5.000,00 per bulan. Dari sinilah minat Sony untuk mengajar mulai muncul. Minat Sony untuk terjun di dunia pendidikan ternyata tidak berhenti di bangku sekolah saja, sejak melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah (jurusan teknik mesin di ITB) Ia memutuskan untuk mengajar matematika, fisika, dan kimia di salah satu SMA swasta yang ada di Bandung. Tidak cukup satu sekolah saja, Sony juga bekerja sebagai pengajar di beberapa bimbingan belajar. Banyaknya pengalaman yang diperoleh Sony saat Ia mengajar di berbagai lembaga pendidikan, membuatnya termotivasi untuk membuka bisnis bimbingan belajar sendiri pada tahun 1990. Bimbingan belajar tersebut diberi nama Sony Sugema College (saat ini lebih dikenal dengan brand SSC). Dengan modal Rp 1,5 juta, Sony gunakan untuk membayar pegawai dan menyewa sebuah ruangan belajar bagi para siswa yang ikut bimbingan belajarnya. Pada awal usahanya, bimbingan belajar yang didirikan pria kelahiran Bandung ini hanya fokus memberikan bimbingan intensif untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi saja. Dengan metode fastest solution dan learning is fun, SSC berupaya untuk membantu para siswa agar dapat menyelesaikan soal dengan cara yang mudah, dan lebih bersemangat lagi untuk mempelajari berbagai pelajaran yang selama ini dianggap sebagai momok (seperti matematika dan fisika). Keberhasilan metode yang diberikan Sony, ternyata menjadi media pemasaran yang cukup efektif. Semakin hari jumlah siswa yang mengikuti bimbingan di SSC semakin bertambah, sampai pada akhirnya tahun 1991 Sony memutuskan untuk membuka cabang di Jakarta. Momen inilah yang menjadi awal perkembangan SSC hingga akhirnya berhasil tersebar di berbagai kota yang ada di Indonesia. Kini setelah duapuluh tahun menjalankan bisnisnya, keberhasilan Sony sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia memiliki empat perusahaan yang semuanya bergerak dibidang pendidikan. Dan segudang penghargaan pun diraih Sony atas keberhasilannya dalam mengembangkan bisnis di bidang pendidikan. Dengan tekad yang kuat dan keberaniannya untuk bangkit dari kegagalan-kegagalan usaha sebelumnya, Sony berhasil menjadikan SSC sebagai salah satu lembaga bimbingan belajar ternama di Indonesia. Semoga informasi mengenai profil pengusaha sukses di bisnis pendidikan, bisa memberikan inspirasi bagi Anda untuk mencoba segala peluang yang ada. Jangan pernah takut akan adanya kegagalan, karena dengan kegagalan Anda bisa belajar tentang banyak hal. Salam sukses. Sumber : http://bisnisukm.com

Read More..